Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Study Rizal Lolombulan Kontu

Makna Peringatan Malam Nuzulul Qur'an di Indonesia dalam Perspektif Dakwah

Agama | 2025-03-19 09:37:27

Malam Nuzulul Qur'an, yang diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, bukan hanya menjadi momen penting dalam sejarah umat Islam, tetapi juga memiliki makna yang mendalam dalam konteks dakwah. Di Indonesia, perayaan malam ini dilaksanakan dengan berbagai tradisi yang kaya, yang mencerminkan keragaman budaya dan kearifan lokal. Namun, terlepas dari berbagai bentuk perayaannya, Nuzulul Qur'an membawa pesan yang sangat penting, yaitu memperkuat hubungan umat Islam dengan al-Qur'an serta menyebarkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Nuzulul Qur'an: Sejarah Singkat dan Makna Spiritual

Nuzulul Qur'an, yang berarti "turunnya al-Qur'an," merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menandai awal kenabian Muhammad SAW. Momen ini merujuk pada turunnya wahyu pertama, yaitu Surat al-Alaq ayat 1-5, yang diterima Nabi Muhammad SAW saat beliau sedang bertafakur di Gua Hira. Peristiwa ini diyakini terjadi pada bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Baqarah ayat 185 bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.

Dalam tradisi Islam, terdapat dua pandangan utama mengenai waktu turunnya al-Qur'an:

1. Turun sekaligus ke Lauhul Mahfudz pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Qadr ayat 1: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan."

2. Turun secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun, dimulai dengan wahyu pertama pada malam 17 Ramadhan, yang dikenal sebagai Nuzulul Qur'an.

Tanggal 17 Ramadhan sebagai peringatan Nuzulul Qur'an didasarkan pada sejumlah sumber sejarah Islam, termasuk riwayat yang menghubungkan peristiwa ini dengan Yaum al-Furqan (Hari Pembeda) yang bertepatan dengan Perang Badar. Meski tidak ada hadis sahih yang secara eksplisit menyebut tanggal ini, banyak ulama sepakat bahwa wahyu pertama turun pada 17 Ramadhan, sehingga umat Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia, memperingatinya pada malam tersebut.

Secara spiritual, Nuzulul Qur'an bukan hanya mengenang turunnya wahyu, tetapi juga menggali pesan-pesan yang terkandung dalam al-Qur'an, kitab suci yang menjadi petunjuk hidup umat Islam. Dalam konteks dakwah, peringatan Nuzulul Qur'an menjadi momen penting untuk mengajak umat Islam kembali merenungkan peran al-Qur'an sebagai sumber utama dalam menjalani kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.

Peringatan Nuzulul Qur'an di Indonesia: Ragam Tradisi yang Mewakili Keragaman Dakwah

Di Indonesia, peringatan Malam Nuzulul Qur'an memiliki berbagai bentuk yang beragam tergantung pada adat dan budaya setempat. Meskipun ragam tradisi tersebut berbeda-beda, semua merujuk pada satu tujuan yang sama: mempertegas nilai-nilai dakwah yang terkandung dalam al-Qur'an.

Murodi, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, menyebutkan beberapa nama dan tradisi di Nusantara dalam menyambut malama Nuzulul Qur’an:

1. Maleman (Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat)

Di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, tradisi ini dikenal dengan nama “Maleman”. Maleman biasanya diisi dengan acara tadarus al-Qur'an, doa bersama, serta pengajian yang diadakan di masjid atau musholla. Pada malam ini, masyarakat akan meluangkan waktu lebih lama untuk membaca dan mempelajari al-Qur'an. Ada juga yang mengadakan acara santunan untuk anak-anak yatim atau orang-orang kurang mampu. Dalam tradisi ini biasanya juga disediakan kue serabi dan tumpeng. Tradisi ini menjadi ajang untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tadarus al-Qur'an, serta memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah antar sesama. “Maleman” sendiri berasal dari kata “malam” yang berarti malam, dan ini menandakan bahwa perayaan ini dilakukan pada malam hari, biasanya malam ke-17 Ramadhan.

2. Khatam Qur'an dan Surban Berjalan (Jawa Timur)

Di beberapa daerah di Jawa Timur, terdapat tradisi “Khatam Qur'an” yang seringkali dilengkapi dengan “Surban Berjalan”. Tradisi ini melibatkan para peserta yang mengarak surban dan berjalan keliling masjid atau desa sambil membaca al-Qur'an. Hal ini simbolik, untuk mengingatkan umat Islam akan pentingnya al-Qur'an sebagai petunjuk hidup dan juga menggambarkan semangat dakwah Nabi Muhammad SAW. Di akhir acara, biasanya ada doa bersama dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Dalam tradisi ini sorban yang diarak itu dianggap sakral oleh penduduk setempat dan setiap orang yang dilewati oleh sorban tersebut biasanya juga menaruh sumbangan berupa uang seikhlasnya di atas sorban tersebut.

3. Malam Pitu Likuhk (Lampung)

Di Lampung, tradisi malam Nuzulul Qur'an dikenal dengan nama “Malam Pitu Likuhk”. “Pitu” dalam bahasa Lampung berarti tujuh, sedangkan “likuhk” berarti malam. Oleh karena itu, Malam Pitu Likuhk ini bertepatan dengan malam ke-17 Ramadhan, yang juga disebut sebagai malam turunnya wahyu pertama. Tradisi ini dilakukan dengan acara tadarus al-Qur'an secara berjamaah dan sering kali diakhiri dengan doa bersama dan santunan kepada anak-anak yatim dan dhuafa. Ini adalah waktu bagi umat Islam di Lampung untuk memperbaharui komitmen mereka terhadap al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang menyeluruh. Dalam tradisi ini disertai dengan penancapan obor besar yang terbuat dari susunan batok kelapa. Masyarakat Lampung juga menyiapkan hidangan seperti kuah beulangong.

4. Keriang Bandong (Kalimantan Barat)

Di Kalimantan Barat, tradisi ini dikenal dengan nama “Keriang Bandong”. Ini adalah tradisi khas masyarakat Dayak yang biasanya berlangsung di malam Nuzulul Qur'an. Acara Keriang Bandong mencakup doa bersama, pembacaan al-Qur'an, dan juga kegiatan sosial seperti memberikan bantuan kepada kaum duafa. Tradisi ini memperlihatkan betapa pentingnya saling membantu dan menjaga ukhuwah Islamiyah dalam perayaan malam yang penuh berkah ini. Ini mencerminkan konsep dakwah yang tidak hanya terbatas pada penyampaian ajaran agama, tetapi juga tindakan nyata dalam membantu sesama. Tradisi ini disertai dengan pemasangan ribuan lampu yang terbuat dari batang bambu dengan sumbu di atasnya.

5. Kuah Beulangong (Aceh dan Sumatera Utara):

Di Aceh dan Sumatera Utara, ada tradisi yang disebut “Kuah Beulangong”. Tradisi ini melibatkan pembuatan kuah atau sup khas yang dibagikan kepada masyarakat, terutama kepada anak-anak yatim atau mereka yang membutuhkan. Kuah beulangong ini terbuat dari daging sapi, kambing, atau kerbau yang dicampur dengan nangka muda, dan pembagian kuah ini dilakukan sebagai simbol kepedulian sosial serta berbagi pada malam yang penuh berkah. Selain itu, masyarakat juga mengadakan tadarus al-Qur'an, doa bersama, dan pengajian untuk memperdalam pemahaman agama. Tradisi ini melibatkan pemberian kuah atau sup khas kepada anak yatim dan dhuafa, sebuah bentuk dakwah sosial yang mengedepankan kepedulian terhadap sesama.

Makna Peringatan Nuzulul Qur'an dalam Perspektif Dakwah

Peringatan Nuzulul Qur'an memiliki makna yang sangat penting dalam perspektif dakwah, yang meliputi beberapa aspek berikut:

Pertama, menghidupkan kembali pesan al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari: Nuzulul Qur'an mengingatkan umat Islam bahwa al-Qur'an bukan hanya kitab yang harus dibaca, tetapi juga dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks dakwah, ini menjadi kesempatan untuk mengajak umat Islam untuk menghidupkan ajaran al-Qur'an dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun negara.

Kedua, meningkatkan kualitas dakwah melalui tadarus dan pengajian: Peringatan Nuzulul Qur'an di Indonesia biasanya melibatkan kegiatan tadarus, pengajian, dan ceramah agama. Ini merupakan bentuk dakwah yang mengedepankan pendekatan intelektual, dengan memperdalam pemahaman umat terhadap ayat-ayat al-Qur'an. Melalui pengajian, masyarakat dapat memaknai wahyu yang turun tersebut dalam konteks kehidupan kontemporer, yang relevan dengan tantangan zaman.

Ketiga, menanamkan nilai-nilai sosial dalam dakwah: Banyak tradisi Nuzulul Qur'an yang mencakup kegiatan sosial seperti pemberian santunan kepada anak yatim dan dhuafa. Ini mencerminkan konsep dakwah yang tidak hanya berfokus pada penyebaran ilmu agama, tetapi juga pada pengembangan masyarakat secara holistik. Dakwah dalam hal ini tidak hanya berbicara tentang ajaran agama, tetapi juga tentang keadilan sosial, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Keempat, menguatkan ukhuwah islamiyah: Acara-acara yang diadakan pada malam Nuzulul Qur'an memperkuat rasa persaudaraan antar umat Islam. Melalui kegiatan bersama seperti tadarus, doa bersama, dan pengajian, umat Islam di Indonesia dapat saling mempererat hubungan dan bekerja sama dalam misi dakwah. Ini penting karena dakwah bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab bersama sebagai umat yang satu.

Kelima, penerapan dakwah yang inklusif dan moderat: Di Indonesia, peringatan Nuzulul Qur'an juga menjadi ajang untuk menegaskan dakwah yang inklusif dan moderat. Dalam mengisi momen ini, banyak ulama dan tokoh agama menekankan pentingnya mengedepankan sikap moderat dalam beragama, serta menghindari pemahaman yang sempit dan eksklusif. Ini selaras dengan pesan al-Qur'an yang mengajak umat manusia untuk hidup dalam kedamaian, toleransi, dan saling menghargai.

Catatan Penutup

Peringatan Nuzulul Qur'an di Indonesia, dengan berbagai tradisi yang beragam, mengandung makna yang sangat dalam dalam perspektif dakwah. Lebih dari sekadar mengenang turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, perayaan ini menjadi momen penting untuk memperkuat pemahaman umat Islam terhadap al-Qur'an dan mengaplikasikan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan tadarus, pengajian, dan kegiatan sosial, umat Islam di Indonesia diajak untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, mengembangkan kepedulian sosial, dan meneruskan dakwah yang inklusif dan moderat, sesuai dengan semangat al-Qur'an itu sendiri.

* Study Rizal L. Kontu adalah Dosen dan Direktur Eksekutif P3ID FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image